top of page

Gigi Hilang Bertahun-tahun, Masih Bisa Implan? Ini yang Perlu Anda Ketahui

  • 3 jam yang lalu
  • 7 menit membaca

“Dok, gigi saya sudah hilang lama. Kalau sekarang mau dibuat lagi, masih bisa nggak?”

Pertanyaan seperti ini cukup sering saya dengar dari pasien.

Banyak orang memang memilih membiarkan gigi yang hilang, terutama jika tidak terasa sakit atau berada di bagian belakang mulut sehingga tidak terlihat saat tersenyum.

Padahal, gigi yang hilang bukan hanya soal penampilan.

Seiring waktu, ruang kosong tersebut dapat memengaruhi posisi gigi di sekitarnya, cara mengunyah, hingga kondisi tulang rahang di area gigi yang hilang.

Salah satu pilihan untuk menggantikan gigi yang hilang adalah implan gigi.

Tapi apakah setiap gigi yang hilang harus diganti dengan implan?

Belum tentu.

Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, sebelum menentukan perawatan, kita perlu melihat terlebih dahulu kondisi gigi, gusi, dan tulang rahangnya.

Mari kita bahas.


Apa Itu Implan Gigi?

Sederhananya, implan gigi adalah salah satu metode untuk menggantikan gigi yang hilang dengan menggunakan implan sebagai penyangga restorasi gigi.

Berbeda dengan gigi tiruan lepasan yang bertumpu pada jaringan di dalam mulut dan dapat dilepas-pasang, implan ditempatkan di dalam tulang rahang. Setelah melalui proses penyembuhan dan integrasi dengan tulang, implan dapat menjadi penyangga untuk restorasi gigi di atasnya.

Karena itu, implan tidak hanya menggantikan bagian gigi yang terlihat, tetapi juga menggunakan struktur penyangga yang berada di dalam tulang.

Namun, saya selalu mengingatkan pasien untuk tidak memilih implan hanya karena terdengar lebih permanen atau lebih modern.

Yang lebih penting adalah apakah implan memang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Anda.


Kenapa Gigi yang Hilang Sebaiknya Tidak Dibiarkan?

Ada pasien yang mengatakan,

“Dok, saya sudah nyaman kok walaupun gigi saya hilang.”

Saya bisa memahami hal tersebut. Tubuh kita memang cukup pandai beradaptasi.

Ketika satu gigi hilang, kita mungkin mulai lebih sering mengunyah menggunakan sisi mulut yang lain tanpa menyadarinya.

Namun, dalam jangka panjang, ruang kosong tersebut dapat menyebabkan perubahan.

Gigi di sebelah ruang kosong dapat bergeser. Gigi lawannya juga dapat mengalami perubahan posisi. Pada kondisi tertentu, perubahan tersebut dapat memengaruhi hubungan gigitan dan pola mengunyah.

Selain itu, tulang rahang di area gigi yang hilang juga dapat mengalami penyusutan. Hal ini terjadi karena setelah gigi dan akarnya hilang, tulang di area tersebut tidak lagi mendapatkan rangsangan yang sama seperti sebelumnya.

Itulah mengapa saya tidak menyarankan pasien menggunakan patokan:

“Kalau belum sakit, berarti tidak masalah.”

Gigi yang hilang memang belum tentu menimbulkan rasa sakit. Tetapi bukan berarti tidak ada perubahan yang terjadi.


Implan Gigi atau Gigi Palsu?

“Kalau bisa pakai gigi palsu, kenapa harus implan?”

Pertanyaan ini sangat wajar.

Implan gigi dan gigi tiruan memang sama-sama dapat digunakan untuk menggantikan gigi yang hilang, tetapi cara kerja dan indikasinya berbeda.

Gigi tiruan dapat menjadi pilihan untuk menggantikan satu atau beberapa gigi yang hilang dan, pada jenis tertentu, dapat dilepas-pasang.

Sementara itu, implan menggunakan komponen yang ditempatkan di dalam tulang rahang sebagai penyangga restorasi.

Karena itu, implan dapat menjadi pilihan bagi pasien yang menginginkan penggantian gigi yang lebih menetap dan tidak ingin menggunakan gigi tiruan lepasan.

Tetapi implan bukan berarti selalu menjadi pilihan yang lebih baik untuk semua orang.

Ada pasien yang kondisi tulangnya belum mendukung. Ada yang memiliki masalah pada gusi. Ada pula yang memiliki kondisi tertentu sehingga bridge atau jenis gigi tiruan lainnya justru lebih sesuai.

Dalam kedokteran gigi, saya tidak ingin pasien memilih perawatan hanya karena melihat hasil perawatan orang lain.

Gigi setiap orang memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda.


Apakah Implan Gigi Sakit?

Ini biasanya menjadi salah satu pertanyaan pertama ketika pasien mendengar tentang implan.

“Dok, sakit nggak?”

Wajar kalau merasa takut.

Mendengar bahwa implan ditempatkan di dalam tulang rahang saja sudah cukup membuat sebagian orang membayangkan prosedur yang berat.

Pada saat tindakan, dokter akan menggunakan anestesi sehingga area yang dirawat dibuat mati rasa. Setelah tindakan selesai, pasien tetap dapat mengalami rasa tidak nyaman sebagai bagian dari proses pemulihan, dengan tingkat yang berbeda-beda pada setiap orang.

Karena itu, saya lebih suka menjelaskan kondisi sebenarnya daripada hanya mengatakan,

“Tenang, nggak sakit.”

Setiap pasien bisa memiliki pengalaman yang berbeda.

Yang penting adalah pasien memahami prosedurnya, mengetahui apa yang perlu dilakukan setelah tindakan, dan mengikuti instruksi dokter selama masa pemulihan.

Sering kali, ketika pasien sudah memahami apa yang akan dilakukan, rasa khawatirnya juga menjadi lebih terkontrol.


Bagaimana Proses Implan Gigi?

Implan gigi bukan perawatan yang sebaiknya dilakukan secara terburu-buru.

Tahap pertama justru adalah pemeriksaan dan perencanaan.

Dokter perlu mengevaluasi kondisi gigi dan gusi, area gigi yang hilang, serta kondisi tulang rahang. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan pencitraan seperti 3D imaging dapat diperlukan untuk membantu melihat struktur di area yang akan dirawat dan merencanakan perawatan dengan lebih tepat.

Dari pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan apakah implan memungkinkan dan bagaimana rencana perawatannya.

Jika kondisi sudah mendukung, implan ditempatkan pada tulang rahang. Setelah itu dibutuhkan waktu untuk proses penyembuhan dan integrasi antara implan dengan tulang.

Tahap berikutnya adalah pemasangan restorasi gigi di atas implan.

Jadi ketika pasien bertanya,

“Dok, berapa lama sampai giginya jadi?”

Jawabannya bisa berbeda untuk setiap orang.

Kasus yang sederhana tentu berbeda dengan kasus yang membutuhkan tindakan tambahan sebelum implan dapat dilakukan.

Karena itu, waktu perawatan sebaiknya ditentukan berdasarkan kondisi pasien, bukan berdasarkan perkiraan umum dari internet.


Gigi Sudah Hilang Bertahun-tahun, Masih Bisa Implan?

“Gigi saya sudah hilang lima tahun, Dok. Masih bisa?”

Bisa saja.

Lama waktu gigi hilang bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah implan dapat dilakukan.

Dokter perlu melihat kondisi tulang dan jaringan di area tersebut.

Ketika gigi sudah hilang dalam waktu lama, tulang di area tersebut dapat mengalami penyusutan. Jika volume atau kondisi tulang belum cukup untuk mendukung implan, pada kasus tertentu mungkin diperlukan tindakan tambahan untuk mempersiapkan area tersebut terlebih dahulu.

Jadi, kalau gigi Anda sudah hilang bertahun-tahun, jangan langsung berpikir bahwa semuanya sudah terlambat.

Periksa terlebih dahulu.

Karena jawaban yang paling tepat bukan berasal dari berapa lama gigi Anda hilang, tetapi dari bagaimana kondisi mulut Anda saat ini.


Berapa Harga Implan Gigi?

“Dok, kalau implan gigi harganya berapa?”

Untuk perawatan implan gigi di Aesthetics Dental Care (ADC), estimasi biaya berkisar antara Rp17.900.000 hingga Rp37.900.000 per gigi, tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Biaya perawatan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jumlah gigi yang perlu diganti, kondisi tulang dan gusi, kebutuhan tindakan tambahan, serta jenis restorasi yang digunakan.

Karena itu, saya justru menyarankan pasien untuk tidak menjadikan harga sebagai langkah pertama dalam menentukan perawatan.

Mulailah dengan pemeriksaan.

Setelah kondisi diketahui, dokter dapat menjelaskan pilihan perawatan, tahapan yang diperlukan, serta estimasi biaya dengan lebih jelas.

Dengan begitu, Anda bukan hanya mengetahui berapa biayanya, tetapi juga memahami mengapa perawatan tersebut dibutuhkan dan apa saja yang termasuk di dalamnya.


Apakah Implan Gigi Bisa Bertahan Lama?

Implan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menggantikan gigi yang hilang.

Namun, bukan berarti setelah implan dipasang kita bisa melupakannya.

Implan tetap berada di dalam lingkungan mulut. Karena itu, kebersihan gigi dan gusi tetap harus dijaga dan kontrol rutin tetap diperlukan untuk memantau kondisi jaringan di sekitar implan.

Saya sering mengibaratkannya seperti ini:

Kita bisa mengganti gigi yang hilang dengan implan, tetapi kita tetap harus merawat “rumah” tempat gigi tersebut berada.

Jadi, perawatan jangka panjang bukan hanya tentang bagaimana implan dipasang, tetapi juga bagaimana kondisi mulut dirawat setelahnya.


Siapa yang Cocok Menggunakan Implan Gigi?

Tidak semua orang yang kehilangan gigi otomatis membutuhkan implan.

Sebelum menentukan perawatan, dokter perlu mengevaluasi beberapa hal, termasuk:

  • kondisi dan volume tulang rahang,

  • kesehatan gusi,

  • kebersihan mulut,

  • kondisi gigi di sekitar area yang hilang,

  • serta faktor lain yang dapat memengaruhi proses perawatan dan penyembuhan.

Karena itu, jangan khawatir jika setelah pemeriksaan dokter justru menyarankan pilihan selain implan.

Tujuan konsultasi bukan untuk membuat semua pasien menggunakan implan.

Tujuannya adalah mencari perawatan yang paling sesuai untuk kondisi pasien.

Bisa jadi implan merupakan pilihan yang tepat.

Bisa juga bridge atau gigi tiruan menjadi pilihan yang lebih sesuai.

Dan itu bukan berarti perawatannya kurang baik.

Yang terpenting adalah keputusan tersebut dibuat berdasarkan kondisi dan kebutuhan Anda.


Implan Gigi di Aesthetics Dental Care BSD

Di Aesthetics Dental Care (ADC) Smiles BSD, kami percaya bahwa perawatan gigi sebaiknya dimulai dengan memahami kondisi pasien terlebih dahulu.

Untuk kasus gigi hilang, dokter tidak hanya melihat bagian gigi yang sudah tidak ada. Kondisi gusi, gigi di sekitarnya, dan struktur tulang yang mendukung gigi juga perlu diperhatikan.

Dalam perencanaan kasus tertentu, pemeriksaan dengan teknologi pencitraan 3D dapat membantu dokter melihat struktur rahang dan area gigi yang hilang secara lebih menyeluruh.

Dari pemeriksaan tersebut, dokter dapat membantu menentukan apakah implan dapat menjadi pilihan, apakah diperlukan persiapan tambahan, serta alternatif perawatan apa saja yang dapat dipertimbangkan.

Karena setiap pasien berbeda, rencana perawatannya pun tidak bisa dibuat dengan satu formula yang sama untuk semua orang.

Ada pasien yang baru kehilangan gigi.

Ada yang sudah bertahun-tahun.

Ada yang kehilangan satu gigi, ada pula yang kehilangan beberapa gigi.

Karena itu, Anda tidak harus datang dengan keputusan,

“Saya mau implan.”

Datang saja dengan pertanyaan:

“Dok, gigi saya yang hilang ini sebaiknya bagaimana?”

Dari sana, kita bisa melihat kondisinya dan membicarakan pilihan perawatannya bersama.


Jangan Tunggu Sampai Gigi Hilang Terasa Mengganggu

Kalau saat ini Anda memiliki gigi yang sudah hilang, mungkin belum ada rasa sakit atau gangguan yang berarti.

Tetapi justru tidak ada salahnya memeriksakannya lebih awal.

Anda tidak harus langsung memutuskan implan. Tidak harus langsung melakukan tindakan.

Mulai dengan mengetahui kondisi gigi, gusi, dan tulang rahang Anda.

Pada akhirnya, perawatan yang baik bukan tentang memilih prosedur yang paling mahal atau paling modern.

Perawatan yang baik adalah ketika dokter dan pasien memahami kondisi yang ada, kemudian memilih solusi yang paling sesuai.

Jika Anda sedang mempertimbangkan implan gigi atau ingin mengetahui pilihan untuk menggantikan gigi yang hilang, konsultasikan kondisi Anda bersama dokter gigi di Aesthetics Dental Care (ADC) BSD.


FAQ Implan Gigi

Apakah implan gigi sama dengan gigi palsu?

Tidak. Implan menggunakan komponen yang ditempatkan di dalam tulang rahang sebagai penyangga restorasi. Sementara itu, gigi tiruan dapat berupa gigi pengganti yang bertumpu pada jaringan di dalam mulut dan, pada jenis tertentu, dapat dilepas-pasang.

Apakah implan gigi sakit?

Tindakan implan dilakukan dengan anestesi sehingga area yang dirawat dibuat mati rasa selama prosedur. Setelah tindakan, pasien dapat mengalami rasa tidak nyaman selama proses pemulihan. Pengalaman setiap pasien dapat berbeda.

Berapa harga implan gigi?

Estimasi biaya implan gigi di Aesthetics Dental Care (ADC) berkisar antara Rp17.900.000–Rp37.900.000 per gigi. Biaya sebenarnya dapat berbeda tergantung kondisi tulang dan gusi, kebutuhan tindakan tambahan, serta jenis restorasi yang digunakan. Pemeriksaan diperlukan untuk menentukan rencana perawatan dan estimasi biaya yang lebih tepat.

Gigi saya sudah hilang bertahun-tahun. Apakah masih bisa implan?

Bisa saja. Namun, kondisi tulang dan jaringan di area tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu. Kehilangan gigi dalam waktu lama dapat menyebabkan penyusutan tulang, sehingga pada beberapa kasus mungkin diperlukan tindakan tambahan sebelum implan dilakukan.

Apakah implan gigi bisa bertahan lama?

Implan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menggantikan gigi yang hilang. Namun, kebersihan mulut yang baik dan kontrol rutin tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan jaringan di sekitar implan.

Apakah semua orang yang kehilangan gigi bisa menggunakan implan?

Tidak selalu. Dokter perlu mengevaluasi kondisi tulang, gusi, gigi di sekitar area yang hilang, serta faktor lain yang dapat memengaruhi perawatan dan penyembuhan.

Mana yang lebih baik, implan atau gigi palsu?

Tidak ada satu pilihan yang selalu paling baik untuk semua orang. Implan dan gigi tiruan memiliki karakteristik dan indikasi yang berbeda. Pilihan sebaiknya ditentukan berdasarkan kondisi mulut, kebutuhan, dan tujuan perawatan masing-masing pasien.

Apakah saya harus langsung melakukan implan setelah konsultasi?

Tidak. Konsultasi bertujuan untuk mengetahui kondisi Anda dan mendiskusikan pilihan perawatan yang tersedia. Anda dapat memahami kondisi dan pilihan yang ada terlebih dahulu sebelum menentukan langkah berikutnya.

 
 
bottom of page